Sebuah Suku yang Berdiam di Pegunungan Lakukan Ritual Bangkitkan Mayat

 

Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga adat dan budaya.

Terbentang dari sabang hingga merauke, adat dan budaya di Indonesia tak terhitung lagi jumlahnya.

Sayangnya, masyarakat di kota-kota besar cenderung telah meninggalkan budaya daerah asal mereka.

Namun suku yang tinggal di daerah pegunungan Latimojong, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini masih memegang teguh adat dan budaya nenek moyang mereka.

Suku Toraja yang mayoritas penduduknya memeluk agama Nazrani ini rupanya memiliki adat yang unik.

Dikutip dari Tribun Solo, masyarakat Torajamasih menganut tradisi Ma’nene, yaitu mengeluarkan kembali jasad orang mati dari tempat peristirahatannya.

Mungkin terdengar mengerikan, tetapi bagi keluarga para jasad itu ritual Ma’nene justru bisa mengobati rindu setelah bertahun-tahun ditinggalkan.

Ritual ini bahkan sempat menghebohkan masyarakat.

Saking hebohnya, banyak kabar yang mengatakan Ma’nene adalah ritual jasad yang berjalan sendiri.

Namun, kabar tersebut sama sekali tidak benar.

Ma’nene adalah tradisi dari nenek moyang yang masih diyakini suku Toraja sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan terhadap leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga adat dan budaya.

Terbentang dari sabang hingga merauke, adat dan budaya di Indonesia tak terhitung lagi jumlahnya.

Sayangnya, masyarakat di kota-kota besar cenderung telah meninggalkan budaya daerah asal mereka.

Namun suku yang tinggal di daerah pegunungan Latimojong, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan ini masih memegang teguh adat dan budaya nenek moyang mereka.

Suku Toraja yang mayoritas penduduknya memeluk agama Nazrani ini rupanya memiliki adat yang unik.

Dikutip dari Tribun Solo, masyarakat Torajamasih menganut tradisi Ma’nene, yaitu mengeluarkan kembali jasad orang mati dari tempat peristirahatannya.

Mungkin terdengar mengerikan, tetapi bagi keluarga para jasad itu ritual Ma’nene justru bisa mengobati rindu setelah bertahun-tahun ditinggalkan.

Ritual ini bahkan sempat menghebohkan masyarakat.

Saking hebohnya, banyak kabar yang mengatakan Ma’nene adalah ritual jasad yang berjalan sendiri.

Namun, kabar tersebut sama sekali tidak benar.

Ma’nene adalah tradisi dari nenek moyang yang masih diyakini suku Toraja sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan terhadap leluhur atau keluarga yang telah meninggal dunia.

Suku ini percaya bahwa menghormati arwah orang yang telah meninggal dapat membawa berkat tersendiri.

Para kerabat dan keluarga melakukan pembersihan dan mengganti pakaian patung leluhurnya pada ritual adat Ma’nene Tau-tau di Kuburan Goa Londa, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (14/8/2015). Ritual Ma’nene dan Ma’nene Tau-tau merupakan tradisi mengganti pakaian para leluhur masyarakat adat Toraja sebagai rasa cinta keluarga yang masih hidup, tak jarang dilakukan lima tahun sekali. (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Tak main-main, ritual ini dilakukan secara sakral.

Melansir dari Tribun Travel, sebelum membuka pintu kubur, pemuka adat membacakan doa dalam bahasa Toraja kuno.

Jasad yang dikeluarkan kemudian dibersihkan dan dilepaskan pakaiannya untuk diganti yang baru.

Prosesi mengganti pakaian jasad membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Prosesi itu biasanya dilakukan langsung oleh keluarga dari jasad tersebut.

Pakaian yang dikenakan kepada jasad pun merupakan milik anak atau cucu dari para leluhur.

Setelah mengganti pakaian jasad, warga berkumpul untuk makan bersama.

Selain memperkaya warisan budaya, ritual ini ternyata juga bertujuan untuk mempererat keluargaan dan menjalin keakraban.(TribunWow.com/Maya Nirmala Tyas Lalita)

Suku ini percaya bahwa menghormati arwah orang yang telah meninggal dapat membawa berkat tersendiri.

Para kerabat dan keluarga melakukan pembersihan dan mengganti pakaian patung leluhurnya pada ritual adat Ma’nene Tau-tau di Kuburan Goa Londa, Kesu, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (14/8/2015). Ritual Ma’nene dan Ma’nene Tau-tau merupakan tradisi mengganti pakaian para leluhur masyarakat adat Toraja sebagai rasa cinta keluarga yang masih hidup, tak jarang dilakukan lima tahun sekali. (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Tak main-main, ritual ini dilakukan secara sakral.

Melansir dari Tribun Travel, sebelum membuka pintu kubur, pemuka adat membacakan doa dalam bahasa Toraja kuno.

Jasad yang dikeluarkan kemudian dibersihkan dan dilepaskan pakaiannya untuk diganti yang baru.

Prosesi mengganti pakaian jasad membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Prosesi itu biasanya dilakukan langsung oleh keluarga dari jasad tersebut.

Pakaian yang dikenakan kepada jasad pun merupakan milik anak atau cucu dari para leluhur.

Setelah mengganti pakaian jasad, warga berkumpul untuk makan bersama.

Selain memperkaya warisan budaya, ritual ini ternyata juga bertujuan untuk mempererat keluargaan dan menjalin keakraban.(TribunWow.com/Maya Nirmala Tyas Lalita)

∁∣¡∁k ¡m∂G⋿ ⊤o Close

Leave a Reply